Kekuatan Fokus
MENGAPA anda perlu berlatih fokus? Jawaban singkatnya, ketika anda mampu fokus, anda dapat melakukan satu hal dengan sangat baik. Di mana anda fokus, di situlah anda menjadi. Anda fokus pada masalah, anda menjadi masalah. Anda fokus pada solusi, anda menjadi solusi bagi masalah.Anda fokus bertahun-tahun pada urusan mendayung, anda menjadi pendayung. Anda fokus bertahun-tahun pada badminton, anda menjadi pemain badminton—dan bisa saja menjadi juara dunia. Anda fokus bertahun-tahun pada kelelawar, anda menjadi ahli kelelawar.
Tanpa fokus, anda tidak mungkin menjadi cukup ahli; perhatian anda akan terpecah di antara banyak hal dan performa anda menjadi berantakan. Orang-orang terbaik di bidang masing-masing adalah mereka yang telah mengerjakan urusan secara fokus pada satu area selama bertahun-tahun, dan mereka melakukan latihan berjam-jam setiap hari.
*
Mudah-mudahan kita bisa bersepakat bahwa fokus adalah kunci untuk menguasai suatu kecakapan. Artinya, jika anda bisa fokus pada satu hal dalam satu waktu, anda dapat menguasai urusan itu dengan baik. Tanpa kemampuan fokus, anda tidak akan pernah menguasai apa pun secara cukup baik.
Pertimbangkan contoh ini. Ketika anda ingin menjadi koki hebat, anda perlu menguasai satu hidangan secara sangat baik sebelum beralih ke hidangan lainnya. Untuk menguasai satu hidangan, anda memerlukan cukup waktu untuk berlatih dan melakukan percobaan-percobaan, sampai akhirnya anda menemukan yang paling memuaskan. Begitu seterusnya. Dengan cara itu anda menjadi koki hebat, menguasai berbagai hidangan, tetapi anda mendapatkan semua kecakapan itu dengan fokus pada satu hidangan demi satu hidangan.
Hal yang sama berlaku untuk keterampilan atau bidang keahlian lain yang kita ingin kuasai: menulis, berbicara di depan umum, pemrograman komputer, memainkan alat musik, atau mengelola sebuah tim.
*
Ketika anda menulis terus setiap hari, apakah anda akan menjadi penulis bagus? Tidak. Kecakapan menulis bagus terdiri atas banyak kecakapan. Anda harus mencacah kecakapan menulis itu menjadi bagian-bagian kecil: menulis kalimat, menciptakan karakter, membuat adegan, membuat dialog, membuat metafora dan perumpamaan, menulis cepat, freewriting, brainstorming, dan lain-lain. Kuasai tiap-tiap bagian itu sebaik-baiknya. Fokus untuk memperbaiki tiap-tiap urusan itu—satu demi satu, seperti si koki menguasai berbagai hidangan.
Anda bisa juga melakukan percobaan-percobaan dengan memikirkan alternatif bagi cerita yang sudah ada.
Katakanlah anda membaca sebuah cerita pendek yang sangat menarik. Apa alternatif yang bisa anda buat dengan cerpen itu? Apakah anda akan memasukkan karakter yang berbeda, isi dialog yang berbeda, setting yang berbeda, masalah yang berbeda di antara para karakternya, menambahkan karakter baru, menambahkan adegan baru, atau memikirkan ujung cerita yang berbeda?
Anda bisa melakukannya sebagai latihan menciptakan alternatif.
Tragedi-tragedi Shakespeare adalah versi alternatif dari cerita yang sudah ada. Dan ia membuat versi yang jauh lebih bagus ketimbang cerita sebelumnya, sebab ia terampil berbahasa, cakap berpuisi, memahami teknik bercerita, dan memahami secara mendalam watak manusia.
Artinya, ia membangun kecakapan terlebih dulu, membuat persiapan yang sempurna, sebelum menawarkan alternatif—sebelum menawarkan perspektifnya.
*
Beberapa penulis lain juga melakukan hal yang sama. Salah satu yang saya sukai adalah Philip Pullman, penulis cerita anak-anak dari Inggris. Pullman menulis cerita alternatif dari dongeng Cinderella dengan menciptakan petualangan baru dalam buku berjudul I was a Rat. Itu cerita tentang bocah lelaki yang semula adalah tikus yang diubah oleh Ibu Peri menjadi salah satu pelayan Cinderella untuk mengiringinya ke pesta. Pada pukul dua belas malam, ketika lonceng berdentang dan Cinderella kembali ke wujud semula sebagai Upik Abu, kereta kencana menjadi labu, si bocah tidak berubah menjadi tikus lagi. Ia menjadi anak hilang yang kemudian dirawat oleh tukang sepatu dan istrinya dan tetap berperangai tikus meskipun wujudnya manusia.
Selain cerita itu, Philip Pullman juga menulis ulang cerita Aladdin, dan saya menyukai Aladdin versinya.
Saya membayangkan bahwa para penulis hebat itu, jika sedang tidak ada gagasan, mungkin akan menulis ulang cerita-cerita yang sudah ada, sekadar menjaga agar mereka bisa terus menulis setiap hari. Atau menjaga kreativitas dengan memikirkan alternatif bagi cerita-cerita yang sudah ada.
Itu hanya bayangan saya, tetapi saya mengikuti cara itu dengan mencoba menulis ulang Mahabharata. Saya tidak menawarkan versi alternatif. Yang saya lakukan hanya mengerjakan ulang cerita itu. Pikir saya, Mahabharata adalah kisah yang memukau, dan ia tetap relevan bagi para pembaca hari ini, tetapi ia memerlukan penulisan ulang. Saya bisa mengerjakan kisah itu dalam cara yang lebih baik ketimbang versi-versi bahasa Indonesia yang pernah ada.
Kemampuan menulis saya, saya yakin, cukup memadai untuk mewujudkan apa yang saya inginkan. Masalahnya adalah apakah saya punya fokus untuk menyelesaikan penulisan ulang itu.
Lagi-lagi soal fokus. Bahkan ketika kita tahu kita sanggup mengerjakan sesuatu, kita bisa gagal menuntaskannya ketika kita tidak mampu fokus.
*
Saya mencontohkan penulisan fiksi, sebab urusan dalam penulisan fiksi lebih kompleks ketimbang nonfiksi. Dalam nonfiksi anda hanya perlu berlatih menulis jernih, dan dengan gaya. Tetapi anda perlu menulis jernih lebih dulu, sebelum meningkatkannya dengan gaya. Jika anda menulis nonfiksi naratif, anda perlu mempelajari aspek-aspek teknis penulisan fiksi.
*
Sekarang, mari kita pikirkan diri kita sendiri. Berapa banyak waktu yang telah kita habiskan untuk mengasah satu keterampilan? Berapa jam yang telah kita sisihkan untuk menguasai sesuatu?
Saya tidak sedang menggugat anda. Bahkan jika anda baru beberapa bulan atau beberapa minggu belajar satu kecakapan dan fokus di sana, itu tetap lebih mengesankan ketimbang kebanyakan orang di luar sana yang bahkan belum memulai. Di kelas ini, misalnya, saya terus-menerus membicarakan tentang kreativitas, tentang alternatif, dan tentang bawah sadar. Mau tidak mau, itu semua tiba-tiba menjadi bagian dari kesadaran anda, setidaknya selama kelas ini berlangsung. Saya akan senang jika kesadaran itu bisa bertahan lebih lama, atau selamanya.
Kreativitas juga efek samping dari fokus. Anda hanya bisa memikirkan berbagai alternatif ketika anda fokus dan memberi perhatian intens pada satu urusan. Bayangkan anda berfokus pada urusan beternak buaya, atau manajemen personalia, atau cara berkebun buah naga. Anda akan terus memikirkan cara-cara alternatif untuk mengerjakan urusan anda sebaik-baiknya.
Hanya ketika anda fokus pada satu hal, anda akan terdorong memikirkan berbagai alternatif. Pikiran anda akan terus tertuju ke sana dan secara otomatis anda ingin menemukan cara yang lebih baik atau lebih efektif untuk menangani urusan yang anda tekuni.
*
Fokus! Fokus! Fokus!
Jika anda ingin meraih sesuatu, anda perlu fokus. Jika anda ingin meningkatkan keterampilan, anda perlu fokus. Jika anda ingin lebih baik dalam bidang yang anda tekuni, anda perlu fokus.
Masing-masing dari kita memiliki banyak hal yang ingin kita capai dalam hidup. Kita ingin sukses, bahagia, sehat, dan kaya. “Kaya” adalah kata sensitif, terutama karena kata itu mengarahkan kita kepada situasi segelintir orang saja di negara ini. Kebanyakan warga negara Indonesia tidak kaya, dan ada banyak yang sangat miskin, dan tanpa harapan untuk menjadi sejahtera. Itu yang membuat kata “kaya” menjadi sensitif, dan membuat orang malu mengakui dirinya ingin kaya, seolah-olah menjadi kaya adalah aib. Kemiskinan ini diperparah dengan tidak tumbuhnya budaya membaca buku. Jadi, sebagian dari kita, jumlahnya sangat banyak, adalah orang-orang yang sangat miskin dan tidak memiliki akses ke ilmu pengetahuan.
Apa pun tujuan hidup anda, penting untuk menyadari bahwa setiap tujuan memerlukan waktu dan upaya untuk meraihnya. Dan fokus.
Kita hidup di dunia dengan banyak gangguan. Kita dikepung oleh begitu banyak hal yang bersaing mendapatkan perhatian kita. Anda perlu upaya keras untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting bagi anda.
Salah satu alasan terbesar kegagalan mewujudkan keinginan adalah orang gagal menjadikan dirinya cukup fokus. Pada suatu saat di dalam kehidupan anda, mungkin anda punya motivasi yang kuat untuk memulai sesuatu, tetapi kemudian ada gangguan, kemudian hidup sehari-hari memperumit anda dengan berbagai urusan, dan akhirnya anda kehilangan pandangan jernih tentang apa yang sebetulnya anda inginkan.
Anda menjauh dari gambaran terbaik yang telah anda rancang tentang diri anda sendiri.
Anda gagal fokus. Anda melupakan tujuan, yang dulu pernah secara menggebu anda tetapkan. Hidup membawa anda ke arah yang berbeda, dan anda kehilangan motivasi terhadap tujuan semula karena tidak pernah mencapai sesuatu yang cukup berharga di sana.
Jadi, satu-satunya dinding penghalang antara posisi anda sekarang dan posisi anda di masa depan bisa jadi adalah kurangnya fokus. Jika anda bisa memperbaiki fokus anda, anda akan tiba pada posisi impian anda.
*
Fokus adalah kemampuan untuk berkonsentrasi pada satu hal, satu tugas, satu tujuan, atau satu ide. Itu berarti juga kemampuan untuk mengabaikan hal-hal lain di luar yang menjadi perhatian utama anda.
Saya mengajukan pertanyaan iseng kepada diri sendiri: Kapan waktu terbaik untuk fokus?
Jawaban otomatis saya adalah pagi hari. Pagi hari adalah saat anda memulai kegiatan. Tidak baik anda bangun tidur dan membiarkan sejuta hal berputar-putar di kepala anda. Anda perlu memulai hari dengan pikiran jernih dan tahu apa yang akan anda kerjakan hari itu. Mungkin anda bisa menuliskan tiga hal yang akan anda kerjakan tuntas dalam sehari itu. Dan anda tetap berpegang pada catatan tentang tiga hal itu, tidak peduli apa pun yang muncul pada siang hari.
Pada petang hari anda bisa memusatkan pikiran untuk berterima kasih kepada diri sendiri, yang telah menyelesaikan tiga urusan yang menjadi fokus dalam sehari. Jika ada yang belum terselesaikan, anda bisa memasukkannya dalam agenda besok.
Itu hanya angan-angan. Saya sendiri bukan orang yang begitu terencana. Tetapi mungkin baik juga jika saya menjalankan apa yang baru saja saya angankan. Setidaknya, jika saya mengerjakannya, saya akan melakukan hal baru dalam hidup saya: Menjadi lebih terencana.
*
Dear, materi ini adalah hasil brainstorming tentang fokus. Saya mengeluarkan begitu saja, tanpa menyensor diri, segala yang saya pahami tentang fokus. Brainstorming serupa dengan tindakan kanak-kanak membongkar kotak mainan. Ia tidak menentukan dari awal akan bermain apa. Ia menuang ke lantai semua mainan yang ada di dalam kotak penyimpanan dan setelah itu baru memilih mainan mana saja yang akan ia gunakan.
Dalam “menuangkan semua mainan” ke halaman komputer, saya melakukannya dengan freewriting—menulis bebas. Tetapi ini freewriting terfokus. Saya menulis bebas dengan membatasi fokus pembicaraan pada urusan fokus.
Untuk latihan setiap hari, saya tetap meminta anda menulis surat kepada diri sendiri. Sesuai dengan materi kali ini, sila menulis surat kepada diri sendiri tentang fokus. Mungkin ada hal-hal tentang fokus yang perlu anda diskusikan dengan bawah sadar anda.[]
Salam,
A.S. Laksana


Komentar
Posting Komentar