Mengubah Nasib Buruk Menjadi Keberuntungan


BAHKAN orang-orang yang beruntung tidak selalu mendapatkan keberuntungan. Hidup yang kita jalani menyediakan dua situasi berpasang-pasangan: gelap dan terang, atas dan bawah, sedih dan bahagia, riuh dan sunyi, beruntung dan sial.

Orang beruntung juga mengalami kesialan, bahkan bisa berkali-kali dalam hidupnya. Saya memiliki beberapa teman seperti ini. Ada satu orang yang bahkan menurut saya sering sial, dan sering mengalami kesialan finansial dalam jumlah sangat besar, tetapi dia hampir tidak pernah meratapi kesialannya. Yang dia bicarakan setiap kali kami bertemu adalah keberuntungan-keberuntungannya yang seolah-olah memang mengalir tak henti-henti. Dia jeli melihat peluang dalam situasi apa pun, dan dengan kejeliannya itu dia sering membuka peluang bagi teman-temannya.

Yang membedakan orang beruntung dari orang tidak beruntung pada saat mereka mengalami kesialan adalah cara masing-masing menghadapi kemalangan tersebut. Orang-orang beruntung memiliki cara luar biasa untuk mengubah kemalangan mereka menjadi keberuntungan.

*

Subprinsip 1Orang yang beruntung melihat sisi positif dari nasib buruknya.

Sebuah penelitian psikologi memperlihatkan temuan bahwa atlet yang memenangi medali perunggu Olimpiade lebih berbahagia ketimbang mereka yang memenangi medali perak. Peraih medali perak berfokus pada pemikiran bahwa seandainya mereka tampil lebih baik mereka akan memenangi medali emas. Sebaliknya, peraih medali perunggu berfokus pada pemikiran bahwa sekiranya mereka tampil sedikit lebih buruk, mereka tidak akan memenangi apa pun.

Psikolog menyebut kemampuan kita untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi, ketimbang apa yang sesungguhnya terjadi, sebagai “pemikiran kontrafaktual”.

Untuk mengetahui apakah orang-orang beruntung menggunakan pemikiran kontrafaktual untuk melunakkan dampak emosional nasib buruk, Richard Wiseman menyodorkan kepada kedua kelompok—beruntung dan tidak beruntung—beberapa skenario buruk dan meminta penilaian mereka. Ia ingin melihat reaksi masing-masing orang di dalam eksperimennya.

Kebanyakan orang yang tidak beruntung hanya melihat kesengsaraan dan keputusasaan ketika mereka membayangkan diri mengalami nasib buruk. Orang-orang yang beruntung cenderung membayangkan, secara spontan, bagaimana kesialan yang mereka alami itu bisa menjadi jauh lebih buruk lagi. Dengan melakukan itu, orang-orang beruntung bisa merasa jauh lebih baik; ia melihat sisi keberuntungan dari kemalangan yang ia alami.

*

Skenario yang diberikan kepada dua kelompok itu misalnya: “Anda berada di sebuah bank pada suatu siang dan seorang perampok masuk, menembakkan pistolnya, dan peluru melukai lengan anda.”

Mereka diminta menilai dengan skala antara -3 hingga +3, di mana -3 adalah sangat sial dan +3 sangat beruntung. Kebanyakan orang yang tidak beruntung menjawab -2 atau -3, sementara kebanyakan orang beruntung menjawab dengan angka +2 atau +3.

“Menurut saya aneh sekali. Bagaimana mungkin tertembak pada lengan bisa menjadi peristiwa keberuntungan?” kata Stephen, pengusaha penerbitan yang bernasib sial—usahanya bangkrut dan ia sering kehilangan peluang. Stephen memberi skor -2 untuk peristiwa dalam skenario tersebut.

Orang-orang yang beruntung menilai peristiwa tersebut adalah keberuntungan besar sebab hanya lengan mereka yang tertembak, sementara bisa saja peluru yang dilepaskan perampok itu menembus kepala atau jantung mereka.

*

Ronald sedang berdiri di peron stasiun ketika seorang pria tidak dikenal mendatanginya dan menembaknya dengan senapan angin. Ronald mencoba menahan pria itu dan, dalam perkelahian, orang asing itu mencabut pisau dan menikam wajahnya. Itu benar-benar serangan ganas dan dilakukan membabi buta. Hari itu Ronald berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.

Richard Wiseman menemukan berita tersebut di koran sebelum memulai penelitiannya. “Dalam suratnya kepada saya,” tulis Richard, “Ronald menjelaskan bahwa dia pasti sial telah diserang secara brutal, tetapi pada saat yang sama dia merasa beruntung karena peluru senapan angin memantul ke kiri dari laringnya, dan bukan ke kanan, yang bisa menyebabkan pita suaranya rusak.”

Dia menggunakan peristiwa tersebut sebagai model untuk menyusun skenario penembakan di bank yang disodorkannya kepada orang-orang di dalam penelitiannya.

*

Untuk latihan, anda bisa menilai tiga skenario yang ada di buku Richard Wiseman ini:

Skenario 1: Bayangkan anda berhenti tiba-tiba di lampu lalu lintas dan mobil di belakang anda menabrak bagian belakang mobil anda. Mobil anda rusak parah dan anda menderita luka ringan.

Seberapa beruntung atau sial anda menilai kejadian itu sekiranya terjadi pada anda?

Skenario 2: Bayangkan anda membutuhkan pinjaman dari bank. Anda mengatur pertemuan dengan manajer bank anda dan menjelaskan situasinya. Manajer sedang sangat terburu-buru, dan menolak meminjami anda uang penuh; ia mengatakan hanya siap meminjamkan setengah dari yang anda minta.

Seberapa beruntung atau sial anda menilai peristiwa ini jika terjadi pada anda?

Skenario 3: Bayangkan anda kehilangan dompet berisi uang tunai, kartu kredit, dan beberapa barang pribadi yang bersifat sentimental. Keesokan harinya dompet tersebut diserahkan kepada polisi dan mereka mengembalikannya kepada anda, tanpa uang tunai dan kartu kredit, tetapi barang-barang pribadi masih ada.

Seberapa beruntung atau sial anda menilai peristiwa ini jika terjadi pada anda?

*

Melatih diri dengan “pemikiran kontrafaktual” serupa dengan upaya menemukan harta karun di tempat sampah. Setiap kali anda mendapatkan nasib buruk, anda bisa menggunakan teknik ini untuk membuat diri anda merasa lebih baik dalam memahami situasi anda.

Prosesnya seperti berikut:

  • Pikirkan bagaimana situasinya bisa menjadi lebih buruk.
  • Tanyakan pada diri sendiri apakah peristiwa sial itu benar-benar penting.
  • Bandingkan diri anda dengan mereka yang kurang beruntung.

*

Subprinsip 2Orang-orang beruntung yakin bahwa nasib buruk apa pun dalam hidup mereka, dalam jangka panjang, akan menghasilkan yang terbaik.

Orang-orang beruntung, ketika mengingat hal-hal yang telah terjadi, sering memfokuskan perhatian mereka pada hal baik yang mengalir dari nasib buruk mereka. Jika nasib buruk menimpa mereka, mereka memandang jauh dan berharap segala sesuatu berjalan dengan baik pada akhirnya.

Menjadi burung phoenix yang lahir lagi dari abu

Saat hal buruk terjadi, anda meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan keberuntungan yang mungkin datang kepada anda berkat nasib buruk yang anda alami. Ini latihan untuk menerapkan kreativitas dalam menghadapi situasi buruk; anda melihat keberuntungan yang akan datang dan menganggap nasib buruk hanya batu loncatan untuk tiba pada keberuntungan luar biasa di depan sana.

Kemudian, tanyakan kepada diri sendiri dua pertanyaan berikut:

  • Apakah ada bukti bahwa peristiwa positif ini akan betul-betul terjadi?
  • Apakah ada bukti bahwa hal yang lebih positif tidak akan muncul dari nasib buruk anda?

Jawaban untuk kedua pertanyaan tersebut adalah "tidak ada".

Anda tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan anda. Satu-satunya yang pasti adalah segala sesuatunya niscaya menjadi lebih baik jika anda tidak membiarkan nasib buruk memukul jatuh anda.

*

Subprinsip 1 dan 2 pada dasarnya adalah teknik untuk melakukan reframing—membuat pemaknaan alternatif terhadap suatu situasi. Anda masih ingat prinsip kreativitas, ialah selalu menemukan alternatif.

Seorang kreatif mampu menerapkan kreativitasnya dalam banyak hal, termasuk dalam menghadapi situasi buruk.

Alternatif menghindarkan kita dari bertindak semata-mata dengan pola stimulus-respons. Anda ditampar, anda balas menampar. Anda dicemooh, anda balas mencemooh. Anda dibentak atasan, anda sakit hati tetapi tak berkutik. Pencarian alternatif melahirkan kearifan semacam ini: “Siapa pun menampar pipi kananmu, berikan juga kepadanya pipi kirimu.”

Terus terang saya tidak paham makna kalimat tersebut; saya tidak dibesarkan dalam iman Kristiani. Namun, saya meyakini bahwa tanpa kreativitas, tanpa upaya menemukan pemikiran alternatif, tidak mungkin muncul kearifan seperti itu.

Dari khazanah Islam, kita mengenal pemikiran alternatif bahwa perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri. Dalam situasi permusuhan antarsuku dan antar-iman di kalangan orang Arab waktu itu, cara berpikir klise tidak mungkin menemukan pemikiran tersebut. Perang terbesar, dalam pemikiran klise, adalah perang melawan suku lain yang paling kuat rasa permusuhannya. Tetapi pemikiran alternatif itu memberi tahu kita sebuah kebenaran: Kita tidak mungkin menundukkan bahkan musuh yang paling lemah sebelum kita berhasil menaklukkan diri sendiri.

Dalam semesta pembicaraan kita di kelas ini, siapa sebetulnya ‘diri sendiri’ yang harus kita taklukkan dalam perang terbesar itu? Bawah sadar kita. Ia musuh terbesar kita, jika kita mengabaikannya. Kita harus menaklukkannya dan menjadikannya sekutu; kita harus bertekun menanamkan kepadanya kesadaran baru, sehingga keinginannya selaras dengan keinginan kita. Jika ia memiliki keinginan sendiri yang berseberangan dengan keinginan kita, ia akan melawan dan ia pasti menang: Ia tidak pernah lelah, sementara pikiran sadar kita mudah lelah.

Reframing, melihat dari perspektif yang tidak klise, membangun pemaknaan alternatif yang lebih sehat, adalah cara mendayagunakan kreativitas untuk menjadikan diri kita lebih rileks dalam menghadapi segala situasi.

Dari berbagai khazanah lain, kita akan menemukan banyak kearifan, dan semuanya selalu merupakan alternatif dari pemikiran-pemikiran klise pada zamannya. Kita menyebutnya kearifan, wisdom, dan ia menyodorkan perspektif yang lebih sehat dibandingkan pemikiran mainstream yang sudah menjadi klise.

*

Subprinsip 3Orang yang beruntung tidak memikirkan nasib buruknya.

Sebisa mungkin jangan pernah kita memasukkan gambar-gambar buruk ke dalam benak kita. Ketika orang memikirkan peristiwa negatif dalam hidup mereka, mereka akan merasa sedih. Ketika orang berkonsentrasi pada peristiwa positif dari masa lalu mereka, mereka akan merasa jauh lebih bahagia.

Dalam hal ini, ingatan dan suasana hati membangun hubungan timbal balik satu sama lain. Ingatan membentuk suasana hati; suasana hati mendorong munculnya ingatan tertentu.

Hubungan dua arah di antara keduanya dapat menjelaskan mengapa orang-orang yang beruntung enggan mengingat-ingat nasib buruk mereka. Keengganan itu membantu mempertahankan perspektif keberuntungan mereka tentang hidup yang mereka jalani.

Orang yang tidak beruntung cenderung merenungkan nasib buruk yang mereka temui sepanjang jalan, dan itu membuat mereka merasa semakin tidak beruntung dan murung. Celakanya, hal ini pula yang mendorong mereka lebih memikirkan nasib buruk dalam hidup mereka, seolah mereka menjalani hidup demi membuktikan bahwa mereka memang ditakdirkan sial.

Orang-orang beruntung menghindari proses ini dengan melupakan peristiwa sial yang menimpa mereka; mereka lebih berfokus pada keberuntungan. Ingatan positif membuat mereka merasa bahagia dan beruntung. Ketimbang membenamkan diri dalam kenangan buruk, mereka akan membuat ingatan dan suasana hati mereka bekerja sama untuk menghasilkan perasaan lebih beruntung dan selalu lebih beruntung.

Latihan: Mengalihkan perhatian

Beberapa kegiatan berikut bisa anda jadikan pengalih perhatian ketika anda mengalami nasib buruk:

  • Pergi ke gym atau sanggar senam. Olahraga merupakan satu cara yang bagus untuk mengalihkan pikiran dari masalah dan mengangkat suasana hati dari kemurungan.
  • Tonton film lucu atau baca buku-buku humor. Anda perlu tertawa untuk meringankan perasaan anda.
  • Luangkan dua puluh menit untuk menemukan peristiwa positif di masa lalu--hidupkan kembali peristiwa tersebut dalam pikiran anda, untuk memberi ide bahwa anda dan perasaan anda sehebat itu. Ingat tentang Milton Erickson yang membayangkan dirinya berlari-larian di masa kanak-kanak ketika ia terserang polio untuk kali kedua.
  • Putar musik karaoke di Youtube dan pilih lagu yang paling anda sukai, terutama lagu-lagu riang, dan silakan bernyanyi.

*

Subprinsip 4Orang yang beruntung mengambil langkah-langkah konstruktif untuk mencegah lebih banyak kesialan di masa depan.

Orang-orang yang tidak beruntung yakin bahwa mereka akan gagal, dan karena itu seringkali mereka tidak berusaha keras. Mereka meyakini, di level bawah sadar, bahwa mereka ditakdirkan sial.

Orang yang beruntung yakin akan sukses dan akan bertahan saat menghadapi kesulitan. Mereka melihat nasib buruk sebagai tantangan yang harus mereka atasi.

Orang yang beruntung mendekati situasi buruk dengan cara yang jauh lebih konstruktif daripada orang yang tidak beruntung.

Orang yang tidak beruntung hampir tidak pernah mencoba mencari tahu mengapa mereka tidak berhasil di masa lalu. Mereka enggan belajar dari masa lalu dan karenanya sering mendapatkan nasib buruk yang sama di masa depan.

Sebaliknya, orang yang beruntung seringkali secara spontan akan memperlakukan kegagalan mereka sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Ketika nasib buruk merintangi jalan mereka, mereka selalu mencari cara lain untuk memecahkan masalah. (Anda ingat lagi tentang inti kreativitas, bukan? Ialah menemukan cara lain—menemukan alternatif.)

Latihan: Lima langkah menuju solusi

Pemecahan masalah secara konstruktif melibatkan lima langkah berikut ini:

Pertama, jangan pernah berpikir anda tidak bisa berbuat apa-apa dalam situasi buruk tersebut. Anda harus membuat keputusan untuk mengambil kendali.

Kedua, lakukan sesuatu sekarang juga.

Ketiga, buat daftar berbagai pilihan yang mungkin dilakukan. Nah, latihan kreativitas yang anda lakukan untuk menemukan banyak kemungkinan menjadi penting di sini. Munculkan sebanyak mungkin solusi potensial yang bisa anda pikirkan.

Keempat, putuskan bagaimana anda akan bergerak maju. Pertimbangkan setiap kemungkinan solusi.

Kelima, mulailah memecahkan masalah. Kemungkinan-kemungkinan solusi yang anda tulis dalam daftar akan sangat bermanfaat ketika jalan ke masa depan mulai terbentang di depan anda.

*

Catatan

Mas Lukmanul Hakim, anda mungkin berpikir: Akan dimulai dari mana jika saya ingin memperbaiki keberuntungan?

Anda bisa melakukannya sebagaimana anda melatih diri untuk menguasai kecakapan-kecakapan lain, ialah melakukannya selangkah demi selangkah.

Menciptakan kehidupan yang beruntung akan membutuhkan sedikit waktu. Itu normal. Orang yang tidak melakukan apa-apa pun membutuhkan waktu untuk tidak melakukan apa-apa.

Anda bisa memulai, misalnya, dengan memperbaiki terlebih dulu “jaringan keberuntungan” anda. Mulailah dengan membuat rencana menambah teman baru dan merawat lagi hubungan dengan teman-teman yang sudah lama tidak anda kontak. Anda berlatih juga mempercayai suara hati anda dan membangun ekspektasi yang sedikit lebih tinggi tentang masa depan, dan seterusnya.

Dalam satu atau dua minggu, anda mungkin akan menemukan sedikit keberuntungan tambahan. Peristiwa kecil ini akan membantu anda merasa, berpikir, dan berperilaku sebagai orang yang lebih beruntung. Itu membuat anda lebih percaya diri bahwa keberuntungan anda membaik dan mulai menjadi bagian diri anda.

Seperti itu saja prosesnya; terus-menerus berlanjut seperti itu.

Hal yang penting juga untuk anda ingat, keberuntungan yang didapat oleh orang-orang yang beruntung bukan sesuatu yang mereka dapatkan tanpa upaya. Orang-orang itu, tanpa mereka sendiri menyadari, telah mengembangkan cara berpikir yang membuat mereka bahagia, sukses, dan puas dengan kehidupan mereka.

Sekarang, setelah anda mengetahui teknik yang mereka gunakan, anda mestinya bisa menjadi seperti mereka.

*

O, saya pikir bagus juga anda menulis surat kepada diri sendiri untuk mengenang sejumlah keberuntungan di masa lalu yang pernah anda alami. Nanti anda bisa memilih satu yang paling membahagiakan anda. Anda akan menggunakan peristiwa itu setiap kali anda ingin membangkitkan perasaan bahagia. Lakukan saja prosedur menonton bioskop. Anda duduk rileks, memejamkan mata, menarik napas, membayangkan diri di berada di dalam gedung bioskop sedang menonton adegan dengan anda sendiri sebagai pemain utama.

Saya paling senang melihat diri saya sendiri pada hari kenaikan kelas, dari kelas satu SD ke kelas dua. Kepala sekolah mengumumkan nama saya sebagai juara kelas. Saya naik ke panggung yang rasa-rasanya besar sekali; saya kecil, berwarna gelap, seperti tahi lalat. Tapi saya juara. Itu kali pertama saya mendapatkan hadiah. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa menjadi juara kelas; pada waktu itu saya hampir tidak pernah belajar dan hanya suka membaca komik. Pada waktu itu saya hanya merasa semua pelajaran sangat mudah.

Komentar

Postingan Populer