Fokus, dan Menjadi Ahli
BAYANGKAN diri anda di media sosial. Anda hanya menulis di akun medsos anda segala macam tentang beternak burung hantu, dan anda menyajikan informasi-informasi tentang burung hantu dalam cara yang menarik. Anda menyampaikan cerita, kiat-kiat, dan pengetahuan tentang satu topik, burung hantu, dan anda menyajikan berbagai perspektif tentangnya.Dengan fokus ke satu topik itu, cepat atau lambat (tergantung kualitas dan daya tarik informasi yang anda sampaikan), anda akan dikenal sebagai ahli burung hantu. Para penggemar burung hantu akan mengikuti tulisan-tulisan yang anda bagikan di medsos. Pada saatnya anda mungkin akan menulis buku tentang burung hantu, dan buku akan membuat anda tampak semakin mumpuni dalam bidang yang anda tekuni, apa pun bidang anda.
Jika anda ilmuwan, buku-buku yang anda terbitkan akan menjadi pembeda antara anda dan kolega anda sesama ilmuwan yang tidak menulis satu buku pun. Tidak banyak ilmuwan kita yang menulis buku, sebab keterampilan menulis mereka tidak memadai. Mereka tidak belajar menulis. Itu membuat tulis-menulis menjadi urusan berat bagi mereka.
*
Masih tentang media sosial, fokus ke satu topik juga membuat urusan anda dengan riuh rendah medsos menjadi lebih simpel. Anda selalu tahu apa yang perlu anda sampaikan setiap hari, jika anda berniat menulis di medsos setiap hari.
Media sosial hanya contoh tentang satu dunia yang banyak orang terlibat di dalamnya. Di sana ada banyak suara, keluhan, teriakan, keributan, dan sebagainya. Ada berbagai cara orang menarik perhatian—kurang lebih sama dengan wilayah-wilayah kehidupan lain yang kita jalani bersama orang banyak.
Dan di wilayah mana pun anda bertekun, fokus akan menjadikan anda berbeda dari kebanyakan orang. Kita bersedia membayar jasa seseorang karena kita tahu orang itu ahli di bidangnya, karena ia telah menekuni satu hal selama bertahun-tahun dan kita membutuhkan keahliannya dalam hal yang ia tekuni itu.
*
Fokus adalah jalan menjadi juara. Anda bisa menemukan contoh sendiri, banyak jumlahnya, tentang para juara. Tidak mungkin orang menjadi juara tinju, juara tari, juara balap motor, juara tenis, atau juara apa pun, jika fokusnya berantakan, atau tidak punya fokus.
Hanya dengan kemampuan berkonsentrasi pada satu hal, dengan tujuan untuk mengerjakan satu hal itu sebaik-baiknya, orang menjadi ahli di bidang itu.
*
Sedikit banyak saya menikmati berkah fokus itu. Di media sosial saya lebih banyak hanya menyampaikan apa saja tentang tulis-menulis, sebab itu bidang yang saya sukai, dan di bidang itu saya menguasai cukup banyak informasi.
Faktor lainnya, sejak lama saya menyimpan “protes” kepada institusi pendidikan kita yang tidak mengajarkan penulisan kepada para siswa. Padahal keterampilan menulis sangat penting. Ilmu pengetahuan menyebar melalui tulisan, melalui buku, dan tanpa keterampilan menulis, orang tidak bisa menyebarkan pengetahuannya kepada orang banyak.
Orang belajar ilmu-ilmu sosial dan humaniora dan filsafat di perguruan tinggi. Apa produk utama mereka? Pemikiran. Bukan jembatan. Bukan desain arsitektur. Bukan pembukuan. Itu semua produk fakultas lain. Mereka yang belajar teknik dan sains memiliki produk lain. Jika mereka memiliki kemampuan menulis, kita akan beruntung bisa membaca wawasan dan ilmu yang mereka sebarkan.
Produk utama ilmu sosial, humaniora, dan filsafat adalah pemikiran. Tanpa kecakapan menulis, mereka tidak menghasilkan produk. Mereka mandul. Para ilmuwan kita kebanyakan mandul. Mereka tidak mampu menulis karena sekolah tidak mengajari mereka kecakapan menulis.
Bertahun-tahun saya menyimpan “protes” semacam itu di benak saya, sampai akhirnya saya, bersama beberapa teman, menyewa satu ruko di daerah Ciputat dan mendirikan kelas penulisan. Pikir saya, tidak semua orang ingin menjadi penulis, tetapi jika ada orang yang ingin belajar menulis, mereka tahu ada tempat yang bisa mereka datangi untuk belajar. Kami mendirikan kelas itu pada 2004 dan saya mengusulkan namanya Jakarta School, dengan ingatan kepada Frankfurt School—Mazhab Frankfurt.
*
Dengan sering memposting di media sosial tentang tulis-menulis, sebetulnya saya hanya ingin mengingatkan orang, sesering mungkin, agar mereka belajar menulis. Juga agar mereka membangun kebiasaan membaca buku, sebab tidak mungkin kita menulis bagus tanpa membaca buku. Biasanya jika tidak memposting tentang penulisan, saya akan memposting tulisan tentang perlunya membaca buku.
Karena bertahun-tahun begitu, orang menganggap saya penulis, atau orang yang hanya menyampaikan hal-hal tentang membaca dan menulis. Ketika saya menceritakan pengalaman-pengalaman pribadi pun, saya menyampaikannya dalam cara seorang penulis menyampaikan pengalamannya.
Karena itu, mereka menganggap saya penulis.
Sebetulnya saya lebih suka membaca. Menulis, bagi saya, adalah efek samping dari membaca.
*
Saya akan senang jika anda bisa fokus pada urusan yang sedang anda tangani. Pekerjaan anda penting, urusan di tangan anda penting, dan ia layak mendapat perhatian. Tetapi anda tetap perlu juga menjaga proporsi.
Terlalu sibuk dengan pekerjaan bisa membuat anda lupa menikmati saat ini, lupa meluangkan waktu untuk menghargai apa yang terjadi di sekitar anda dan menikmati keindahan dunia di sekitar anda.
Nikmati saat ini. Ketika anda bersama orang-orang yang anda sayangi, arahkan fokus anda ke mereka. Tunjukkan kepada mereka betapa berarti mereka bagi anda.
Saya mengingatkan ini karena terlalu sering saya melihat orang-orang berkumpul tetapi masing-masing sibuk dengan ponsel mereka.
Satu orang yang saya kenal sangat menghargai siapa pun yang sedang bersamanya adalah Fuad Hassan, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan. Ketika sudah bersedia menerima orang, Fuad selalu meluangkan seluruh waktu untuk orang itu. Ia fokus pada pertemuan. Ia tidak menerima telepon, tidak mau waktunya dengan tamunya itu diganggu oleh urusan-urusan lain. Bahkan sekalipun tamunya itu hanya anak muda 24 tahun, yang baru mengenal Jakarta, yang pengetahuannya masih sangat dangkal dalam hal apa pun.
“Ad, ada telepon,” kata istrinya. Pada waktu itu belum terlalu banyak orang punya ponsel. Di keluarga mereka, masing-masing orang hanya memanggil nama, termasuk anak kepada orang tua, termasuk sopir kepada majikan.
“Kamu terima saja, saya sedang ada tamu,” kata Fuad.
Itu pertemuan saya kali pertama dengan Fuad Hassan, dan saya merasa sangat dihargai. Beberapa kali lagi saya bertemu dengannya, di rumah maupun di kantornya di kampus UI, dan ia tetap berlaku sama.
*
Jadi, orang-orang di sekitar anda juga perlu mendapatkan fokus anda. Mereka bagian penting dari kehidupan anda. Anda perlu memastikan bahwa mereka tidak merasa diabaikan—terutama orang-orang terdekat yang paling peduli pada anda.
*
Ada beberapa cara yang bisa anda lakukan untuk mengembangkan kemampuan fokus.
Pertama: Fokus pada satu hal dalam satu waktu. Ketika anda mulai mengerjakan sesuatu, beri perhatian penuh sampai ia tuntas. Jangan memulai urusan lain sampai anda menyelesaikan urusan pertama.
Kedua: Fokus pada urusan yang sedang anda tangani. Jangan memikirkan urusan lain saat mengerjakan urusan anda. Ini akan mencegah anda dari penundaan dan mendorong produktivitas karena anda tidak membuang waktu untuk memikirkan hal-hal lain selagi mengerjakan urusan anda.
Ketiga: Fokus pada apa yang berlangsung saat ini. Jangan terpenjara oleh kejadian yang sudah berlalu dan jangan mencemaskan hal-hal yang belum terjadi. Penderitaan kita hari ini mungkin merupakan akumulasi dari perasaan masa lalu, perasaan hari ini, dan perasaan takut masa depan. Yang nyata adalah perasaan kita hari ini. Jika anda berhasil menyingkirkan rasa sakit masa lalu dan rasa cemas masa datang, anda hanya berurusan dengan perasaan hari ini, dan mungkin sebetulnya ia baik-baik saja. Saya mendapatkan pengetahuan ini dari dua hal menarik yang pernah saya pelajari, meditasi dan hipnosis.
Keempat: Fokus pada hal-hal yang anda bisa kendalikan saja. Ini membuat anda tidak sibuk memikirkan hal-hal yang berada di luar kendali anda. Anda jelas tidak mungkin mengendalikan keadaan cuaca, keputusan politik, atau bagaimana orang lain akan bereaksi terhadap apa yang anda lakukan. Anda hanya perlu berfokus pada apa yang bisa anda kendalikan secara langsung, ialah semua tindakan, keputusan, keinginan, dan tujuan anda sendiri. Di situlah anda bisa memfokuskan kesadaran. Anda tidak bisa dan memang tidak perlu mengontrol perilaku orang lain. Orang lain mengontrol diri mereka sendiri. Jadi anda hanya berfokus pada kesadaran anda: Apa tujuan anda dan apa yang bisa anda kerjakan hari ini.
Kelima: Fokus pada proses dan bukan pada hasil. Hasil adalah efek samping dari proses yang anda jalani dengan baik. Ketimbang ingin tulisan anda dimuat di media ternama (hasil), saya pikir lebih baik anda berfokus untuk meningkatkan kecakapan menulis (proses). Mungkin pada suatu hari tulisan anda dimuat di media ternama. Atau mungkin suatu hari anda memenangi penghargaan dengan tulisan-tulisan anda. Itu semua efek samping dari meningkatnya kecakapan menulis anda.
*
Mas Lukmanul Hakim, silakan bercakap-cakap dengan diri sendiri. Anda bisa menulis surat kepada diri sendiri, masih tentang fokus. Fokus pada satu hal selama beberapa waktu, dan anda akan ahli di situ. Dalam urusan tulis-menulis, bicarakan tentang fokus pada proses dan bukan pada hasil. Anda selalu bisa menikmati proses, anda bisa mengukur kemajuan anda, anda bisa melihat secara jernih di bagian mana anda perlu lebih baik lagi. Fokus pada hasil lebih mudah membuat anda tertekan, atau frustrasi.
Semoga itu menjadi percakapan diri sendiri yang bermanfaat.
Sampai jumpa besok,
A.S. Laksana


Komentar
Posting Komentar