Kisah Suparno 1963

Kesempatan kali saya berjumpa dengan salah satu saksi sejarah yang luarbiasa melegenda. Saya menyebutnya Legenda karena beliau yang saya temukan ini adalah saksi sejarah tentang perjuangan pahlawan masa lalu Negara tercinta Indonesia. 

Siapa yang tidak kenal Presiden Kedua Republik Indonesia yakni Pak Soeharto (Jendral Soeharto). Pahlawan Negara asal Yogyakarta itu sederhana dalam bermasyarakat, seperti yang diceritakan oleh Pak Suparno selaku Anak dari seorang Tentara bernama Anwar yang  menjadi ayah kandung dari  Suparno. Kesederhanaan Presiden kedua RI itu  tercermin dari kebiasannya datang ke pak Suparno untuk di Pijat dan bergurau dan menikmati minum kopi dengan pak Suparno setiap saat kala Pak Presiden istirahat sejenak dari kesibukannya.

poto@luckujourney

Pak Suparno kelahiran 1963, berkisah bahwa dirinya pernah menjadi supir Bus selama 32 Tahun sehingga Lombokpun tidak asing bagi dirinya. Di usianya yang sudah mencapai 50 Tahunan ini pak Suparno masih berjasa kepada semua orang dengan jasa Memijatnya yang terkenal bisa  memulihkan kebugaran membantu masyarakat yang sakit.

Kedatangan saya untuk dipijat oleh pak Suparno bukan tanpa sengaja, akan tetapi bahwa saya tahu beliau adalah kawan yang unik dari Pak Presiden kedua Republik Indonesia, Sayapun  menjumpainya dengan rasa bangga dan terdetak Kagum. Obrolan saya dengan Pak Suparno terus berlanjut, kisah demi kisah diceritakan mungkin karena beliau tahu bahwa saya suka dongeng dan sejarah hehe..😊

Disela sela kesibukan pak Suparno memijat saya, sambil bercanda dan berkisah mataku tertuju kepada seikat koran terbitan hari itu (update). Koran Tribun Jogja mengisyaratkan kepada saya bahwa Budaya literasi di Yogyakarta masih tertata rapi, bukan berarti lenyap tergantikan teknologi. Dibandingkan dengan daerah tempat saya masih jauh dari esensi literasi membaca, Karena koran jauh tertinggal oleh teknologi.

literasimembaca

Literasimembaca

Literasimembaca

Pembelajaran tersirat yang saya dapatkan hari ini, Khususnya kepada regenerasi muda dan kepada saya sendiri harus bisa memelihara Budaya literasi membaca di kampung sendiri. 

Singkat cerita saya pun pamit dan Pak Suparno memberikan saya seikat koran itu (Tribunjogja) sebagai kenang kenangan.

Terimakasih pak Parno panjang umur semoga bisa jumpa lagi di silaturahim berikutnya.


#tulisanberlanjut

#kisahinspiratif


Komentar

Postingan Populer